Kisah Pilu Agus, Pemuda Lampung Timur: Kaki Nyaris Putus, Bertahan Hidup di Gubuk Reyot yang Menunggu Runtuh

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Selasa, 6 Januari 2026 - 05:09 WIB

5069 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Timur

Di sudut terpencil Dusun Pulowaru, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, di antara hamparan sawah dan jalan tanah yang sunyi, seorang pemuda bernama Agus (20) sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

Bukan di rumah sakit yang layak, bukan di atas ranjang empuk—melainkan di sebuah gubuk kayu tua yang miring dan nyaris ambruk, ditemani rasa sakit yang tak kunjung reda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tubuh Agus terbaring lemah di atas tikar tipis di lantai papan yang lembap. Kaki kirinya nyaris putus, luka terbuka itu menjadi saksi bisu tragedi yang mengubah hidupnya selamanya.

Setiap tetes air hujan yang menetes dari atap bocor bukan hanya membasahi tubuhnya, tetapi juga membasahi lukanya—mengancam infeksi dan keselamatan jiwanya.

Tragedi memilukan itu terjadi pada 20 November 2025. Saat bekerja sebagai buruh pemotong rumput demi membantu ekonomi keluarga, sebuah kecelakaan kerja tak terduga terjadi.

Pisau mesin potong rumput meledak, menghantam kaki kiri Agus dengan brutal. Dalam hitungan detik, masa depan yang ia bangun dengan keringat runtuh seketika.

Sejak hari itu, Agus tak lagi mampu berdiri, apalagi bekerja. Ia hanya bisa terbaring, menahan nyeri yang kerap membuatnya meringis di tengah malam, tanpa pengobatan yang memadai.

Lebih menyayat hati, Agus hidup dalam kemiskinan ekstrem. Rumah yang ia tempati bersama keluarganya hanyalah gubuk kayu lapuk: dindingnya miring, lantainya rapuh, dan sewaktu-waktu bisa roboh. Tidak ada kasur, tidak ada kamar mandi layak, tidak ada perlindungan dari panas dan hujan. Yang tersisa hanyalah harapan rapuh yang digenggam di tengah keterbatasan.

Ayah Agus bekerja sebagai buruh pengayak pasir dengan penghasilan sekitar Rp60 ribu per hari—itu pun tidak menentu. Dari penghasilan tersebut, ia harus menghidupi lima orang anggota keluarga. Untuk makan sehari-hari saja sering kali tidak cukup, apalagi untuk membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS serta biaya transportasi kontrol ke rumah sakit di Kota Metro.

Ironisnya, sebelum kecelakaan itu terjadi, Agus adalah tulang punggung keluarga. Di usia yang masih sangat muda, ia memilih bekerja keras demi membantu orang tuanya. Kini, pemuda itu hanya bisa pasrah, menahan sakit, dan berharap ada uluran tangan kemanusiaan yang sudi datang menyelamatkannya.

“Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” ucap salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar. “Yang kami harapkan hanya kesembuhan Agus dan tempat tinggal yang aman.”

Relawan kemanusiaan menyebut kondisi Agus sebagai darurat kemanusiaan. Mereka berharap kisah pilu ini dapat mengetuk hati banyak pihak—khususnya Pemerintah Daerah Lampung Timur, instansi terkait, para dermawan, dan masyarakat luas—untuk memberikan bantuan nyata berupa pengobatan lanjutan dan pembangunan rumah layak huni.

Data Singkat:
Nama: Agus (20 tahun)
Alamat: RT 008 RW 004, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur
Kontak Relawan: 0813-7315-4369 (Amrizal / Bang Rizal)
Pendamping: Relawan Peduli Agus – Sahabatpedalaman.org
Dokumentasi foto dan video kondisi rumah serta luka Agus telah tersedia dan siap disampaikan kepada pihak-pihak yang ingin membantu maupun media yang hendak menindaklanjuti.

Di tengah rasa sakit yang terus mendera dan hidup yang serba kekurangan, Agus masih menggenggam satu harapan sederhana: sembuh, bangkit, dan kembali menjalani hidup yang layak sebagai manusia.

Uluran tangan sekecil apa pun hari ini, bisa menjadi penentu hidup seorang pemuda—dan masa depan sebuah keluarga.(red)

Berita Terkait

Semarak HBP Ke-62, Bazar Ditjenpas Sumut Diserbu Warga dan Tampilkan Karya Warga Binaan
Polrestabes Medan Akan Di Demo Mendesak Kapolrestabes Medan Menepati Janji Menyelesaikan Kasus Korban Yang Disuruh Polisi Nangkap Maling Jadi Tersangka !
Warga Binaan dan Petugas Rutan Tarutung Jalani Tes Urine Mendadak
Putri Proklamator RI Halida Nuriah Hatta Turun ke Tenda Pengungsian Tinjau Langsung Kondisi Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang
Masyarakat Batu Bara Minta Presiden Prabowo Subianto Segera Ambil Alih Lahan Eks HGU PT Socfindo Tanah Gambus
Akta Palsu, Dana Digondol, Dirut “Dilengserkan” : Skandal Agen Elpiji 3 Kg di Sumut Seret Nama Oknum Notaris dan Tersangka Polrestabes Medan, Minta Pertamina Turun Tangan
Kalapas Kelas I Medan Pimpin Apel Pagi Perdana Awal Tahun 2026
Donasi Spontan XMIST dan Penonton Bantu Warga Lampung Dapatkan Listrik

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 14:54 WIB

Semarak HBP Ke-62, Bazar Ditjenpas Sumut Diserbu Warga dan Tampilkan Karya Warga Binaan

Minggu, 1 Maret 2026 - 14:54 WIB

Polrestabes Medan Akan Di Demo Mendesak Kapolrestabes Medan Menepati Janji Menyelesaikan Kasus Korban Yang Disuruh Polisi Nangkap Maling Jadi Tersangka !

Jumat, 9 Januari 2026 - 14:57 WIB

Warga Binaan dan Petugas Rutan Tarutung Jalani Tes Urine Mendadak

Selasa, 6 Januari 2026 - 17:15 WIB

Masyarakat Batu Bara Minta Presiden Prabowo Subianto Segera Ambil Alih Lahan Eks HGU PT Socfindo Tanah Gambus

Selasa, 6 Januari 2026 - 10:30 WIB

Akta Palsu, Dana Digondol, Dirut “Dilengserkan” : Skandal Agen Elpiji 3 Kg di Sumut Seret Nama Oknum Notaris dan Tersangka Polrestabes Medan, Minta Pertamina Turun Tangan

Selasa, 6 Januari 2026 - 05:09 WIB

Kisah Pilu Agus, Pemuda Lampung Timur: Kaki Nyaris Putus, Bertahan Hidup di Gubuk Reyot yang Menunggu Runtuh

Senin, 5 Januari 2026 - 20:26 WIB

Kalapas Kelas I Medan Pimpin Apel Pagi Perdana Awal Tahun 2026

Senin, 5 Januari 2026 - 13:54 WIB

Donasi Spontan XMIST dan Penonton Bantu Warga Lampung Dapatkan Listrik

Berita Terbaru